RSS
 

Seminar Nikah

09 Feb

Saya ingin menampilkan sharing dari salah seorang mitra yang menjadi EO Seminar Nikah di Bandung. Mitra EO saya namanya Asri Fitriasari. Beken dengan panggilan Achi. Akun twitternya @achiisurachii . Semoga bermanfaat :)

Seminar Nikah 081284102222Hari ini alhamdulillah saya dan tim berhasil mengadakan#SeminarNikah bareng Om @noveldy di Hotel Anggrek. Alhamdulillah sukses dan penuh! Berawal dari keingintahuan saya tentang #SeminarNikah yang dibawakan Om @noveldy, dengan pede berat saya ngajak tim TakeOff EO untuk bikin di Bandung. Langsung mengajukan diri tanpa mikir dulu hehehehe. Cuma modal yakin kalau ilmu tentang #Menikah harus disebarluaskan ke banyak orang, apalagi di Bandung belum ada.

Saya & tim juga belum kebayang banget materi dan suasananya akan seperti apa. Apalagi selama perjalanan belum banyak  orang yang merasa begitu pentingnya untuk ikut ini. Kebanyakan orang  yang menanyakan tentang event ini hanya sebatas ingin ajah, bukan sebagai kebutuhan. Jadi gak banyak yang bela-belain untuk ikut. Padahal faktanyaaa…

100% pernikahan itu bermasalah! Penuh konflik! Percaya? Yaa gimana gak bermasalah, bayangin aja.. Dalam 1 rumah ada 2 kepala yang dibesarkan oleh 2 kepala, dan 2 kepala itu dibesarkan oleh 2 kepala lagi. Kebayang maksudnya apa? Yaap!! Rumahtangga itu dihuni oleh multiperson point of view.. Pasti ada gesekan! Pasti ada masalah. Naaaah, mayoritas dari kita (bahkan hampir semua) menganggap bahwa masalah dalam pernikahan itu bumbu yang tinggal dijalani aja! Padahal…

Kelaziman yang dijadikan kebenaran itulah yang jadi biang  masalahnya! Banyak dari kita menyiapkan lembaga sakral bernama pernikahan lebih banyak untuk hari H-nya saja alias untuk pestanya saja..  Padahal yang namanya pernikahan itu hari H setiap harinya. Persiapan dan perbekalannya harus cukup! Kita mau pergi ke ‘gunung’ bukan ‘mall’.

Setiap dari kita sekolah bertahun-tahun biar dapat kerja yang bagus, biar kariernya cemerlang, persiapannya panjaaaang untuk dapat gaji (setidaknya) 5jt/bulan. Setiap dari kita berjibaku ngumpulin duit buat ikut training pengembangan diri, training seminar dan pelatihan bisnis, tapi..

Sedikit bahkan gak ada dari kita yg menyisihkan uang utk mengupgrade kualitas pengetahuan kita tentang nikah! #jleb #nahloh. Ijazah SD, SMP, SMA, kuliah dikejaaaar habis-habisan untuk (ceritanya) bertahan hidup di masa depan, tapi ilmu nikah sama skali gak  minat untuk dikejar. Padahal helloooowwww! pernikahan itu pondasi dari semua urusan kita di dunia. Perkaranya dunia akhirat! Janjinya bukan sama Boss tapi sama Tuhan :)

Banyak banget dari kita ingin nikah tapi tanpa persiapan, bahkan yang sudah merasa siap pun belum tahu persiapan yang baik itu seperti apa. Pernikahan itu lomba lari marathon tweeps, bukan lomba lari sprint! Penting banget untuk disiapkan dan dipenuhi perbekalannya..

Teruuuus, apa aja dong yang harus disiapkan? Yah.. Gak ikut#SeminarNikah  sih tadiii.. Banyak banget yang dibahas! Rugi banget gak ikut :P Hehehehehe..

“Ah da saya mah masih lama mau nikahnya, belum butuh kokkk..” Sejak ikut seminar tadi saya pribadi malah ber-azzam, azzam-nya seperti ini… ”Sedini mungkin anak hrs diajari #FaktaNikah dan cara menghadapi pernikahan, gak usah nunggu gede dulu..Pelan-pelan.. ” Persiapan nikah itu segunung cyiiin.. Harus dicicil dari sekarang. Jangan nunggu kalau udah mau nikah atau kalau udah nemu pasangan.. telat!

Semakin cepat kita tahu nikah itu apa dan kehidupan pascanya seperti apa, semakin tepat kita memilih pasangan. Beneran! Jadi yang harus disiapkan itu ilmu relationship-nya dulu baruuu deh menjalin relationship. Ini dulu, baru ituuuu..

#Nikah  itu kan tujuan hidup banyak orang yahh. Saya gak berani bilang semua orang, ada ajaa loh yang gak kepikiran nikah sama sekali.. Orang khan beda-beda.. Nah, kalau saya pribadi sih memandang itu #Nikah itu penting banget! Sekolah kehidupan paling pol! Tempat bertumbuh paling yahud :) Kalau memang kita pengen nikah, dan tau betapa pentingnya nikah, sudah sejauh mana waktu itu untuk concern ‘ngasi’ makan jiwaraga untuk urusan yang satu  ini?

Jangan-jangan kita termasuk orang yang ngikutin alur, niru ortu, atau ngejalanin apa yang kata orang bilang aja.. Wawww.. Bahaya kalau nikah modalnya begini :) Iyasiiih.. Nikah mah learning by doing. Iya banget. Masalahnya penuh kejutan dan termasuk unpredictable problem. Tiap pasangan punya  masalah yang beda juga.

Tapi.. Samalah kayak bisnis, ada pola sederhana yang banyak orang gak tau dan ngeh padahal itu kunci pernikahan barokah. Pernikahan itu gak mudah. Butuh kekuatan jiwaraga yang super untuk jalaninnya. Tapiiiii berita baiknya adalah pola suksesnya sederhana!

Cuma ya itu gak mudah! Berdarah-darah! Indahnya di awal doang, kesananya berjuang abis-abisan. Hayooo kalau sudah  gini, masih mau nikah ga? :P Kenapa gak mudah? Karena Nikah itu akar dari semuanya. Pondasi kehidupan banyak orang! Kehidupan pernikahan kita gak sehat, kualitas hidup kita juga gak sehat..

Banyak dari kita malu, gengsi, atau merasa belum pantes untuk belajar ttg Nikah.. Padahal ngapain malu? Ngapain gengsi? Kenapa harus ditunda-tunda? Saat ini edukasi tentang nikah masiiih amat sangat minim. Padahal kerasa gak pentingnya kayak gimana? Ngerasa gak kalau semua orang yang mau nikah harus belajar dulu?

Seminar Nikah Indra NoveldyJujur-jujuran aja deh yah ini mah.. Saya juga banyak kecolongannya. Banyak ilmu yg miss yang belum saya tau tentang nikah.. #SeminarNikah hari ini benar-benar superrrrb! Beda banget dari apa yang saya bayangkan sebelumnya! Materinya unik! Benar-benar jleb, bikin hening, dan gubrak! Yang paling mencengangkan lagi ternyata pembicaranya bukan seorang psikolog! Benar-benar saksi hidup dari jatuh bangunnya membangun pernikahan.

Berdasarkan berbagai pengalaman dan survey yang cukup akurat, Om@noveldy membeberkan #FaktaNikah  yg wowwwwgak kepikiran sama sekali! Om @noveldy  membeberkan kelaziman kondisi pernikahan yang salah kaprah! Ternyata banyak dari kita memegang prinsip hidup pernikahan yang totally wrong!

Satu ruangan pas #SeminarNikah tadi sukses terhenyak dengan #FaktaNikah yang dibeberkan Om @noveldy. Termasuk saya & suami. Senyum-senyum geli berdua deh kitaa.. Banyak banget yang reaksinya, “oooohhhh gitu yaaa?” Dengan bentuk ‘O’ yang bulat sempurna! Speechless..

Info dan ilmu lebih lanjut harus banget ikut #SeminarNikah dan follow RELATIONSHIP COACH yang satu ini » @noveldy | supeeerrb!!!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Memuaskan Ego

10 Dec

Apa yang akan terjadi saat ego berkuasa? Apa bahayanya kalau kita ingin memuaskan ego kita? Semoga kisah nyata berikut ini bisa memberi pelajaran buat kita semua.

Memuaskan Ego - www.IndraNoveldy.comKisah ini pernah saya tayangkan di TL akun twitter saya @noveldy. Atas permintaan teman-teman, sekarang saya masukkan dalam website. Selamat menikmati, semoga bermanfaat :)

Saat kita melampiaskan emosi kita kepada pasangan, kita merasa lega… puas… then what???  Cara termudah untuk melihat penyebab memburuknya hubungan dengan pasangan adalah menyalahkan dia. Namun apakah ini langkah yang terbaik?

Seringkali dalam masalah hubungan dengan pasangan, langkah yang mudah bukanlah langkah yang terbaik. Hari ini saya sedih sekali menyaksikan bagaimana sebuah ‘kebodohan’ telah mengakibatkan kehancuran dalam sebuah rumah tangga

Hanya karena faktor ingin memuaskan ego, usaha yang telah dilakukan selama berbulan-bulan, saat ini diambang kehancuran… Karena tindakan memuaskan ego tersebut, sepertinya hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan pernikahan mereka.

Selama proses konseling, sudah seringkli diingatkan bahayanya tindakan memuaskan ego tersebut. Namun tampaknya ybs sedang tertutup hatinya… Padahal selama proses konseling, sudah mulai terlihat progress yang lumayan memberikan harapan.  Kondisi pernikahan mereka sendiri sudah dalam konflik stadium 4.

Hari ini saya diperlihatkan kembali bahayanya dari hati yang keras. Membuat saya flashback perjalanan kehidupan pernikahan kami. Saat kami sedang mengalami masalah yang cukup serius dalam pernikahan kami, kami sangat sadar bahaya dari hati yang keras.Kami bersyukur Allah membukakan hati kami untuk bisa melihat bahaya dari hati yang keras. Dan kami hampir tergelincir di sana.

Temans.. yang saat ini masih punya kekecewaan, kemarahan kepada orang tua… yuk segera perbaiki diri <– sumber kekerasan hati

Klien konseling ini baik pihak pria & wanita, berasal dari keluarga yang disharmoni. Mereka punya excess baggage yang sangat besar kepada orang tuanya. Singkat cerita, kemarahan, kekecewaan kepada ortu membuat mereka tanpa disadari mengcopy paste ketidak bahagiaan ortu mereka.

Memuaskan Ego - www.IndraNoveldy.comSalah satunya menjelma menjadi sosok yang sangat dingin… cenderung sinis. Prestasi akdemik & karirnya mengkilap.. namun dingin seperti robot. Tanpa dia sadari, tatapan matanya, body languagenya, ucapannya, auranya cenderung dingin, sinis dan menjatuhkan.

Saat konseling, semua hal itu langsung bisa terdeteksi. Bisa bayangkan bagaimana perasaan pasangannya? Dan mereka sudah menikah > 15 tahun!

‘Bukan sebuah keanehan’ kalau pasangannya akhirnya ‘menemukan’ pihak ke-3. Namun pasangan tsb boleh dibilang tidak pernah mengalami pertengkaran besar/hebat yang mengarah kpd perpisahan. Masing-masing pihak berusaha mengalah. Menjaga supaya tidak terjadi pertengkaran. Dan dari luar, pasangan ini ‘terlihat baik2 saja’.

Sampai suatu malam pasangannya mengatakan: I’m leaving you… It’s enough.. –> ybs merasa disambar petir. Akhirnya semua yang selama ini ditahan2 karena mengalah, meledak keluar. Karena masing-masing merasa sudah mengalah… Merasa sudah memberikan semuanya…

Mereka masuk ke fase tidak terima dengan apa yang terjadi. Sakit hati, marah. Keinginan yang sangat besar untuk menyalahkan pasangan. Walaupun di mulut mengatakan: Saya tahu saya punya peran membuat ini terjadi… tapi alam bawah sadarnya, sangat kencang mengatakan sebaliknya.

Saat konseling,  sang klien sudah diajak untuk ‘mengenali’ dirinya, jujur dengan apa yang dirasakan. Namun sikap denial sangat jelas terlihat. Singkat cerita, lewat proses konseling perlahan tapi pasti ‘suasana’ mulai membaik. Namun sempat beberapa kali klien ini  melakukan ‘blunder’… kesalahan yang tidak perlu, yang sebenarnya sudah diingatkan untuk jangan dilakukan.

Faktor ego yang belum terpuaskan menjadi kendala yang sangat besar. Sempat beberapa kali keadaan menjadi kritis… Sebagai konselor, lumayan sakit kepala mencari solusinya.

Setelah bisa diatasi,  saya sudah ingatkan dia untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi. Juga sudah diingatkan penyesalan yang akan timbul nantinya. Namun nampaknya ego yg menjadi  pemenang… :(  Akibatnya bisa diprediksi….dia kemudian panik minta bantuan

Sedih sekali mengetahui hal ini sebenarnya bisa dihindari… dan sudah diingatkan agar tidak sampai terjadi… namun si klien ini tidak mau mendengar’. Yang lebih sedih lagi, dia lebih memilih untuk mendengar nasihat dari temannya, nasihat dari ‘orang-orang’… *sigh*

Dan nasihat dari ‘orang-orang’ tsb… sangat ‘sesuai’ dengan apa yang ingin dilakukannya selama ini. seperti mendapat pembenaran. Akhirnya dia pun  ’mengungkapkan perasaannya’ kepada pasangannya di saat ‘yang sangat tepat’… :(

Karena sang klien ini merasa berhak untuk mengutarakan apa yang dirasakan, secepatnya kepada pasangannya… Hasilnya bisa ditebak… disaster! Bencana! Menghancurkan semua proses yang sudah dilakukan sebelumnya… Akhirnya saya adakan sesi konseling stlh kejadian itu. Dan saya bicara cukup ‘keras’ kepadanya…

Bagi yang kemarin sempat ikut #SeminarNikah Pekanbaru & Jakarta, mungkin bisa lebih relate dengan apa yang saya sampaikan kepada klien saya tersebut…

Boleh dibilang, scorenya  merah semua untuk tujuan nikah, mindset, knowledge dan skill nya

Teman2nya sangat memberi ‘support’, mereka mengatakan bahwa dia sudah melakukan semuanya… sedangkan dr kacamata saya, scorenya masih  merah semua. Banyak hal yg belum/tidak dia lakukan dalam rangka membangun sebuah keluarga yang harmonis selama masa 15 tahun lebih pernikahan mereka.

Satu hal lagi yang memperburuk keadaan adalah, keinginannya untuk bisa segera mendapatkan hasil yang cepat (mental instan). Sang klien ini belum mau melihat fakta bahwa dia belum melakukan yang terbaik. Bahkan boleh dibilang belum melakukan apa2 dalam pernikahannya…

Keinginan untuk menyalahkan pasangan sangat besar. Permintaan maaf pasangan merupakan ‘harga mati’ yang tidak bisa ditawar…

Saya sudah ingatkan, namun ternyata dia memilih mendengar teman2nya & dia tetap melakukan apa yang diinginkannya, mengutarakan ‘perasaannya’ kepada pasangannya.

Memuaskan ego - www.IndraNoveldy.comSaat ini pernikahan mereka sangat diujung tanduk… butuh keajaiban.. Baru sore ini dia bbm saya, menyatakan penyesalannya… Baru sekarang dia bisa melihat dengan jernih… tapi nasi sudah (hampir) menjadi bubur

Sekarang  barulah dia bisa lihat hal-hal yang seharusnya  sudah dilakukannya selama 15 tahun terakhir…  Yang ada sekarang penyesalan…

Ingin rasanya saya ‘mencekik’ dia dan berteriak: saya sudah ingatkan sejak awal, bukan??? Namun kamu keras hati!!!

Yang membuat saya lebih sedih, mereka sudah punya anak dan salah satunya sudah beranjak remaja… Temans, saya berharap tidak ada yang harus mengalami kejadian seperti klien saya tadi… Yuk bekali diri…

Banyak masalah dalam pernikahan terjadi karena faktor ketidaktahuan… Banyak yang bisa dihindari kalau kita sudah tahu ilmunya… Apakah harus belajar sama saya??? Tidak!! Kita bisa belajar dari buku-buku, role model terdekat… Intinya, miliki knowledge dan skillnya

Smg ini bisa memberi manfaat… Yuk beri perhatian untuk kehidupan pernikahan kita…

Sesuatu yang tidak dirawat, pasti akan rusak –> demikian juga kehidupan pernikahan.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Seminar Pernikahan

21 Nov

Seminar Pernikahan 0812 8410 2222

Info mengenai jadwal seminar pernikahan, hubungi 0812 8410 2222.

Dear friends, yuk ikuti seminar pernikahan yang insya Allah akan diadakan di kota dengan detail berikut ini:

Pekanbaru, 27 November 2011.      Pendaftaran: 0852 7181 8989

Jakarta, 4 Desember 2011                  Pendaftaran: 0812 8410 2222

Apa saja yang bisa didapat dari seminar ini?

Seperti kita ketahui untuk berhasil dalam bidang apapun, entah itu karir atau bisnis kita perlu memliki bekal knowledge dan skill yang dibutuhkan. Tiap bidang memiliki hal spesifik yang bisa menunjang kesuksesan. Ada juga hal yang berlaku universal yang berlaku untuk bisa sukses di bidang apapun. Seperti kejujuran, kerja keras, komitmen, dll.

Demikian juga dengan pernikahan. Untuk berhasil membangun pernikahan yang harmonis kita perlu membekali diri dengan knowledge dan skill. Sayangnya belum banyak yang secara sadar membekali dirinya. Banyak juga yang memasuki jenjang pernikahan dengan mindset yang kurang tepat. Belum lagi banyaknya pandangan yang beredar luas di masyarakat yang belum tentu benar mengenai pernikahan.

Di seminar ini saya sharing banyak hal penting untuk membangun pernikahan yang harmonis. Insya Allah sharing ini akan up to date seiring dengan konseling pernikahan yang saya lakukan sehari-hari :)

Pertanyaan yang sering diungkapkan:

1. Siapa yang perlu datang ke seminar ini? Apakah hanya mereka yang sudah bermasalah dalam pernikahannya?

Tidak perlu menunggu sampai ada masalah untuk hadir dalam seminar ini. Justru mencegah lebih baik daripada mengobati, bukan? Kalau sudah ada masalah… apalagi… harus datang :)

Mereka yangbelum dan mau menikah, sedang persiapan menikah, sudah menikah dan sudah lama menikah perlu mengikuti seminar ini. Untuk yang belum dan mau menikah, akan memiliki bekal sebelum memasuki jenjang pernikahan. Untuk yang sudah (lama) menikah akan menjadi penyegaran (refreshing dan recharging) kehidupan pernikahannya serta terus membekali diri dan bisa melakukan introspeksi dari perjalanan pernikahan yang ada.

2. Apakah kasus/masalah saya akan dibongkar dalam seminar ini? Saya malu kalau orang lain tahu…

Di seminar ini kita tidak akan membahas kasus satu per satu. Pembahasan kasus dilakukan saat konseling secara personal. Jadi tidak perlu takut masalah intern pernikahan akan dibuka di depan umum :)

3. Saya harus datang berdua atau boleh sendiri?

Yang ideal adalah datang berdua dengan pasangan. Namun jika kondisinya belum memungkinkan, bisa datang sendiri.

4. Berapa lama acara seminarnya?

Seminar akan berlangsung selama 2-3 jam, termasuk tanya jawab

Saya tunggu anda di seminar nanti ya… :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Pacaran Setelah Menikah

22 Oct

Pacaran Setelah Menikah www.IndraNoveldy.comBuat kita yang telah menikah, mungkin ada yang lupa untuk melakukan pacaran setelah menikah. Bahkan mungkin ada yang sama sekali tidak kepikiran untuk melakukannya. Tentunya pacaran dengan orang yang sama, pasangan sah kita :)

Tahukah anda, bahwa pacaran yang paling nikmat dan menyenangkan adalah pacaran setelah menikah. Dan ini perlu dilakukan secara sengaja. Namun dalam prakteknya jarang yang menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting. Baik di usia pernikahan yang masih seumur jagung maupun bagi yang pernikahannya sudah cukup lama.

Banyak yang setelah menikah merasa bahwa pasangannya sudah menjadi ‘miliknya’, jadi tidak perlu diperjuangkan lagi, tidak perlu direbut lagi hatinya. Bahaya!!! Sikap take for granted  ini bisa menjadi salah satu faktor yang menghancurkan sebuah pernikahan.

Bagi yang saat ini merasa dirinya tidak romantis dan merasa hal ini terlalu mengada-ada, pikirkan lagi deh… Kalau bukan kita yang mengajak pasangan kita untuk pacaran, nanti ada orang lain yang mengajak dia untuk pacaran lhoo… Tentang romantis? Jangan khawatir, itu semua bisa dipelajari. Dan romantis versi kita tidak harus selalu sama dengan versi romantis yang sering kita lihat di tv, film maupun tulisan yang ada. Kita bisa menciptakan romantis versi kita dan pasangan.

Kalaupun kita merasa tidak butuh untuk pacaran, adakah kemungkinan pasangan kita ternyata membutuhkannya? Jangan asumsi. Dan jangan terlalu cepat menolak gagasan untuk pacaran lagi setelah menikah. Siapa tahu setelah kita melakukannya ternyata kita dan pasangan sangat menikmatinya :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Mental Survival

21 Oct

Masalah Pernikahan www.IndraNoveldy.comTopik kali ini tentang mental survival. Wah, apa lagi hubungannya dengan kehidupan pernikahan ya? Mari dilanjutkan membacanya :)

Beberapa dari kita mungkin cukup beruntung memiliki masa lalu yang baik, indah, menyenangkan. Namun tidak sedikit yang tidak seberuntung itu. Harus mengalami masa lalu yang cukup keras, sedih , pahit, menyakitkan. Cara tiap orang mengatasi kondisi itu bisa berbeda-beda. Secara garis besar bisa dibagi dalam 2 kategori: terpuruk dalam perasaan tidak berdaya atau berjuang, bertahan untuk tetap bisa melanjutkan hidup. Nah, yang terakhir ini kita namakan mental survival saja ya biar mudah.

Cukup banyak mereka yang memiliki mental survival ini akhirnya bisa ‘sukses’ dalam kehidupannya. Sukses dalam karir maupun bisnis. Beberapa cukup beruntung juga bisa sukses dalam keluarganya. Namun tidak sedikit yang mengalami masalah yang cukup serius dalam kehidupan pernikahannya. Mengapa?

Dalam usahanya untuk bisa melanjutkan hidup tanpa disadari banyak yang akhirnya mematikan rasa… Karena masa lalu terasa terlalu menyakitkan untuk diingat. Mekanisme pertahanan diri akhirnya ‘memutuskan’ untuk tidak lagi merasakan yang akhirnya seperti menjadi mati rasa. Bagi kita yang saat ini sangat kuat mengandalkan logika, yuk dicek lagi apakah benar tanpa disadari kita sudah mematikan rasa?

Hasil lain dari mental survival ini antara lain menjadi pribadi yang ‘terlalu mandiri’, dirasakan terlalu superior oleh pasangan dan ada juga yang ternyata akhirnya sadar sulit untuk merasa disayang (setelah bisa melakukan introspeksi diri sendiri).

Wah, apakah  memiliki mental survival ini berarti jelek? Tentu saja tidak. Mungkin kita bisa ambil mental toughness nya, memiliki kemauan yang kuat. Bagi mereka yang memiliki mental survival ini banyak yang tanpa disadari menjadi rancu antara keras kemauan dan keras hati. Yang benar untuk bisa memiliki kehidupan pernikahan yang harmonis kita harus memiliki kemauan yang keras, bukan hati yang keras.

Bagi yang saat ini mungkin sedang mengalami masalah dalam pernikahan, coba dicek apakah ada kemungkinan penyebabnya dari mental survival ini. Jika kita berani jujur kepada diri sendiri dan ternyata jawabannya benar, bagaimana solusinya? Segera minta bantuan kepada orang yang bisa dipercaya. Bisa sahabat, keluarga, terapis atau mereka yang kompeten di bidangnya untuk membantu kita bisa mengatasi masa lalu tersebut.

Kata kuncinya adalah berani jujur dengan diri sendiri. Tidak melakukan penyangkalan… atau pada saat konseling saya suka sebut sebagai “rajadenial.com” :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Saya sudah melakukan yang terbaik… REALLY???

20 Oct

Konsultasi Pernikahan 0812 8410 2222Banyak yang saat konsultasi maupun komunikasi via twitter mengatakan mereka sudah melakukan yang terbaik. Dan mereka sudah merasa lelah. Merasa pasrah, sudah tidak ada lagi yang mereka bisa lakukan untuk memperbaiki kehidupan pernikahan mereka. Dan biasanya cenderung untuk menyalahkan pasangan yang memang tidak mau memperbaiki hubungan ini.

Sebelum kita mengklaim bahwa kita sudah lakukan yang terbaik, yuk coba kita lihat beberapa pertanyaan dibawah ini. Kalau kita bisa menjawab semua pertanyaan dibawah ini dengan positif, mungkin kita bisa mengatakan bahwa kita sudah melakukan yang terbaik.

1. Saatsepertinya pasangan sudah menyerah dan tidak mau memperbaiki hubungan, apa pilihannya? Ikut menyerah? Hasilnya sudah pasti! Kalau berjuang….???

2. “Saya sdh lelah berjuang utk memperbaiki pernikahan…” Yakin sudah melakukan yang terbaik? Versi siapa?

3. Apakah bekal ilmu & skill yang kita miliki sudah cukup untuk bisa mengatakan kita sudah melakukan yang terbaik?

4. Apakah kita sudah mempraktekkan hukum alam… memberi,memberi dan memberi…???

5. Sudahkah kita melakukan perubahan diri yang diperlukan untuk bisa memperbaiki keadaaan???

6. Sudahkah kita memiliki mindset yang tepat dalam memperbaiki hubungan dengan pasangan???

7. Sudahkah kita menginvestasikan  waktu, perasaan dan usaha kita dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki keadaan?

8. Apakah kita sudah jadi orang yg lebih baik di rumah? Yakin kita bukan memberikan ‘sisa’ dari diri kita?

9. Saat mengatakan sudah melakukan yang terbaik, apakah kita sudah jujur dengan diri sendiri? Parameter apa yang dipakai?

10. Sudah berapa lama kita menikah tidak bisa dijadikan patokan bahwa selama itulah kita sudah berjuang melakukan yang terbaik.

11. Mungkin justru kita mempunyai peran yang ikut meyebabkan kondisi pernikahan kita saat ini

12. Apakah kita sudah tahu apa kebutuhan pasangan kita? Apakah dia sudah merasa disayang, dihargai?

13. Apakah kita sudah yakin apa yang kita sampaikan kepada pasangan tidak disalah mengerti oleh dia?

14. Apakah kita sudah tahu bagaimana menciptakan suasana nyaman dalam pernikahan kita? Sudahkah kita mempraktekkannya?

15. Jangan terlalu cepat mengatakan kita sudah melakukan yang terbaik dalam kehidupan pernikahan kita.

16. Yang sering terjadi kita hanya mengikuti ego dan emosi saja. Keinginan kita untuk berjuang cenderung rendah

17. Sudah berapa tahun kita melakukan transformasi diri? Apakah kita tahu apa yang harus dirubah dari diri kita?

18. Apakah kita sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki keadaan? Apakah kita sudah berusaha mencari tahu?

19. Apakah dengan ‘ bekal’ yang kita miliki saat menikah (seadanya) cukup untuk kita gunakan untuk mengarungi bahtera rumah tangga?

20. Apakah kita sudah secara sengaja menambah ilmu tentang bagaimana membangun keluarga yang harmonis?

21. Apakah kita sudah siap untuk membayar harga yang diperlukan untuk mendapatkan pernikahan yang bahagia?

22. Kalau kita mengatakan pernikahan bahagia penting buat kita… apakah tindakan kita sudah  sesuai dengan apa yang kita katakan tersebut?

23. Sebenarnya, banyak pertanyaan yang bisa saya sampaikan saat ada yang mengatakan saya sudah lakukan yang terbaik…

24. Kalau memang kita sudah lakukan yang terbaik, hati kita pasti tenang… kita tahu Allah tidak buta.. Kita bisa berserah…

25. Yuk jangan terlalu cepat mengatakan saya sudah lakukan yang terbaik… masih ada ruang untuk tumbuh untuk melakukan yang terbaik..

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Awas ada BOM WAKTU!

19 Oct

Sadarkah kita bahwa  saat ini ada bom waktu yang mengancam dalam kehidupan pernikahan kita? Mungkin ada yang sadar dan banyak juga yang tidak sadar atau pura-pura tidak tahu. Saat bom waktu ini meledak, dampaknya sangat menghancurkan. Kehidupan pernikahan yang tadinya terlihat sangat harmonis bisa tiba-tiba berubah 180 derajat dalam waktu yang sangat singkat.

Yang agak sulit ternyata bom waktu ini tampil dalam hal-hal yang kelihatannya sepele. Yang sepertinya terlalu remeh untuk dibahas. Yang tertutup oleh hal yang namanya toleransi. Yang terbungkus oleh sikap kita yang sepertinya ‘mengerti’ kepada pasangan kita. Padahal mungkin yang sebenarnya terjadi kita sedang mengalah.

Jika kita melakukan ‘pembiaran’ terhadap hal ini, kita sendiri yang akan memetik hasilnya nanti. Lalu apakah berarti kita harus menuntut pasangan kita untuk berubah sesuai dengan yang kita inginkan? Hmm… bukan itu solusinya. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama kita harus berani jujur kepada diri sendiri, berani melihat secara obyektif  ’siapa’ diri kita. Kita juga harus membekali diri dengan knowledge dan skill yang dibutuhkan untuk bisa memperbaiki keadaan.

Semakin lama kita menunda melakukan tindakan perbaikan semakin besar resiko bom ini akan meledak. Sikap berpura-pura seakan-akan semuanya baik-baik saja dan akan baik dengan sendirinya akan semakin memperburuk keadaan. Sayangnya banyak yang melakukan hal ini baik disadari ataupun tidak.

Termasuk yang manakah anda?

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 
 

Antara Kucing Anggora, Banteng Matador dan Zombie

15 Oct

Wah, judulnya asyik juga… antara kucing anggora, banteng matador dan zombie. Apa hubungannya dengan kehidupan pernikahan ya? :)

Konsultasi Perkawinan 0812 8410 2222Saat konseling banyak yang curhat kenapa pasangannya sekarang berubah, berbeda dibandingkan dulu saat awal menikah. Saat menikah dulu pasangannya seperti kucing anggora. Lemah lembut, menjaga perasaan kita, tutur katanya santun, pokoknya loveable deh… Tapi setelah beberapa tahun menikah, pasangannya menjadi sangat berbeda. Ada yang berubah jadi banteng matador. Galak, pemarah, agresif, tidak peduli perasaan orang lain, mudah tersinggung… pokoknya seperti banteng terluka banget deh. Namun ada juga yang pasangannya berubah zombie… menjadi dingin, seperti tidak punya tujuan, kemauan hidup, apatis, tidak pedulian.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Apa penyebabnya? Apakah hal ini terjadi secara tiba-tiba? Apakah pasangan secara sengaja melakukan hal itu? Oiya, bahasan ini dengan asumsi pasangan kita normal ya, bukan psikopat atau punya masalah mental kejiwaan. Kalau kondisinya seperti itu ada yang lebih kompeten untuk membahasnya :)

Mau tahu jawabannya? Benar siap dengar jawabannya kenapa pasangan kita berubah jadi seperti itu? Yakin?

Sebenarnya ‘tanpa disadari’ kitalah yang menyebabkan pasangan kita berubah menjadi seperti itu. Cara kita merespon pasangan, cara kita bersikap ternyata bisa merubah pasangan kita. Tanpa disadari karena sikap kita ini membuat pasangan kita jadi kurang menghargai kita. Pasangan kita melihat kita tidak layak untuk didengar. Dia tidak percaya dengan apa yang kita katakan. Yang terlihat akhirnya pasangan kita seperti merendahkan, meremehkan kita. Dia berubah menjadi banteng matador.

Bisa juga yang terjadi sebaliknya. Tanpa disadari, justru sikap kita yang cenderung merendahkan, meremehkan pasangan kita. Mungkin dari ucapan, bahasa tubuh, tatapan mata, semua bisa mematikan perasaan pasangan kita. Tanpa disadari, kita sudah menjadi pembunuh berdarah dingin bagi pasangan kita. Hasilnya, dia menjadi zombie.

Kondisi ini tidak mengenal gender. Bisa dialami baik pihak istri maupun suami. Lalu bagaimana solusinya? Pertama, lakukan introspeksi. Sadari kita punya peran dalam hal ini. Dan segera lakukan perbaikan untuk perubahan. Caranya? Simak terus artikel-artikel yang ada di sini ya :)

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 

Pilihan Hati

01 Oct

Wah, sudah lama juga ya sejak posting terakhir saya… *malu*

Kali ini saya posting sharing dari seorang sahabat tentang pilihan hati nya…yang kemungkinan anda pernah kenal, baca beritanya tentang dia, karena dia seseorang yang sangat sukses dan prestasinya sangat bisa dibanggakan. Saya berterima kasih sekali kepada sahabat saya ini karena dia bersedia berbagi kisah perjalanan kehidupan pernikahannya kepada kita semua. Semoga sharing dari sahabat ini bisa memberi manfaat buat kita semua. Amin.

Selamat menikmati :)

Saya dan suami dari keluarga yang cukup berada. Ketika menikah kami tidak ada resepsi dan dananya kami pakai beliPilihan Hatirumah seharga 50 juta dan kami dapat mobil. Saya memilih suami karena alasan yang sangat subyektif. Dia muallaf dan saya ingin menemani dia dunia akhirat… dan  saya sangat yakin dia mencintai saya dan akan jadi pemimpin terbaik bagi saya.

Sebenarnya teman-teman dekat saya sebelumnya banyak yang kaya sekali tapi saya kok tidak tertarik ya. Saya pernah pacaran dengan anak orang terkenal yang sekarang jadi salah 1 orang terkaya di Indonesia. Tapi saya khawatir dengan social gap yang ada. Saya takut dilecehkan. Saya juga pernah punya teman dekat anak gubernur, tapi dia suka mabok dan jarang shalat sehingga saya tolak mentah-mentah deh.

Saya dulu menolak calon suami saya karena kami beda agama. Kemudian takdir menemukan kami kembali  setelah 1 tahun tidak bertemu.Cinta sulit dilogika ya? J  Ada kecocokan yang amat sangat. Bahkan dalm shalat-shalat tahajud dan istikaharah yang saya lakukan, keyakinan itu timbul dan semakin kuat. Persahabatan/proses ‘pedekate’ kami mengalami hambatan ke2 belah pihak. Keluarga.Ibu saya pemimpin aisyiah/muhammadyah… tidak setuju. Tapi dengan mukjizat Allah akhirnya kami bersatu dalam satu iman walaupun masih sulit menyatukan 2 keluarga beda iman dan  budaya hingga kini.

Kami jarang meminta… rumah mungil & mobil itu adalah hadiah perkawinan paling lux yang kami punya. Kami selalu bahu membahu dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Fyi, penghasilan saya selalu lebih besar dari suami. Kadang ini jadi pemicu pertengkaran tapi tidak pernah fatal karena suami punya jiwa besar.

Bahkan di dalam perusahaan pun saya juga cukup dominan. Namun kami saling melengkapi. Saya thinker & dia intuitive person. Kiri & kanan. Semakin kami harmonis, semakin kami dapat titipan Allah yang berlimpah. Tanpa bermaksud sombong dari rumah 75m2 dalam 17 tahun perkawinan menjadi 1100m2. Banyak teman yang melihat kami climbing social jauh lebih cepat dari mereka. Dari mobil gallant2 kuno sekarang sudah jadi jaguar XJ terbaru. Subhanallah…

Perkawinan kami juga tidak selalu mulus. Cara mengelola keuangan yang berbeda juga sering jadi pemicu perselisihan. Kalau kami berantem hebat, maka ada saja musibah yang terjadi. Makanya kami jarang bertengkar lebih dari 3 hari… Sama-sama gak mau kehilangan :) . Perselisihan yang paling hebat terjadi 5 tahun yang lalu saat kami sama-sama tergoda dengan lawan jenis. Namun rasa cinta yang dalam mampu memaafkan kekhilafan.

Kami pernah mengalami kehidupan yang sangat minim secara ekonomi tapi kami selalu bahagia. Saya & suami masih sering bercanda & anak2 juga suka tertawa.  Kami masih sering memanggil dengan panggilan sayang, pergi berlibur berdua, pillow talk, tukar pikiran dan kami 24 jam selali bersama!!

Mengingat kembali proses menuju nikah, hari itu itu saya dilamar hari itu juga saya dinikahkan secara siri oleh ayah saya… 1 tahun kemudian baru diresmikan. Mertua saya sngt baik, walau beda agama. Saya sangat cinta mereka seperti orang tua  saya sendiri. Tapi beliau pernah meminta kami untuk membatalkan pernikahan kami.

Oh ya, sebelum menikah kami sempat berpisah untuk mempelajari agama calon pasangan dan secara bebas memutuskan untuk convert atau tidak. Saya pernah punya teman dekat yang punya salah satu stasiun TV nasional. Tapi gaya hidupnya yang western beda jauh dengan kebersahajaan keluarga saya. Saya juga pernah punya teman dekat pembalap nasional, tapi beda iman juga. Saya tidak melihat kans dia akan convert, so saya tidak tertarik. Saya suka jiper kalau punya suami dari keluarga yang social gapnya terlalu jauh, Takut disia-siakan.Hih serem deh. Mending mulai dari bawah bersama.

Masalah yang sering timbul adalah cara mengelola keuangan. Saya suka menabung sementara dia suka belanja. Kebalik ya hahaha. Sering kami dihutangi teman-teman dekat yang sulit kembali & ini suka jadi pertengkaran karena beda cara pandang mengenai definisi “duit” kali ya. Selain itu masalah lain adalah dia generous dan gampang ditipu teman sementara saya cenderung hati-hati, terkesan pelit.

Kisahnya saya mundur sedikit… karena beda iman, saya sempat tolak calon suami 2x. Saat dikenalkan dia terus terang ke sahabat saya mau pacarin. Saya tolak mentah-mentah. Padahal dia ganteng. Sempat bubar sebelum nikah. Sesudah nikah beberapa kali tercetus dari kedua belah pihak untuk bubar tapi tidak pernah serius atau from the bottom heart.

Sebelum menikah saya minta pisah sebelum dia memutuskan mau pindah / tidak. Saya sendiri berkomitmen untuk mempelajari agamanya jadi fair tidak ada pemaksaan. Saya sendiri sebenarnya tidak ingin covert, tapi komitmen tersebut saya berikan agar si dia merasa tidak ditekan. Karena itu masalah yang sangat prinsip.

Kami sangat mementingkan anak & ortu & diam-diam saling menyadari kalau kami sangat cinta. Susah lho cari ganti pria yang sholeh, sabar & “setia” hehe. Intinya saya melihat alasan perkawinan itu adalah faktor utama untuk bertahan dan menghindari perceraian. Ketika saya merasa menyakiti suami & beliau memberikan saya hak untuk memutuskan untuk terus atau cerai, justru disitu saya mulai merasa kehilangan yang sangat.

Kami masih saling percaya, menghargai, juga memuja “dalam hati” karena suka sok gengsi untuk merayu satu sama lain… hahaha. Saya mensyukuri memiliki keluarga yang utuh, memiliki bilai-nilai kehidupan yang  sejalan, anak-anak yang sholeh, keluarga besar yang mendukung, sahabat-sahabat yang baik. Suami mensyukuri perkawinan kami yang selalu dalam lindungan Allah SWT, masih ada orang tua yang bisa diurusin, masih ada sumber penghasilan.

Kami selalu mengutamakan komunikasi & keterbukaan. Kalau secara lisan nada suara sudah tinggi maka kami memilih kirim pesan lewat email/sms/bbm. Kami membangun keluarga yang demokratis. Suami bukan diktator, saya juga tidak mendominasi keputusan.Keputusan diambil bersama, anakpun dilibatkan.

Bertanggung jawab atas #pilihanhati berarti tidak mengeluh terhadap kekurangan pasangan. Selalu kami berdoa agar jadi istri/suami yang baik. Suami menganggap saya sebagai teman, sahabat, kekasih & sekaligus amanah/titipin Allah. Suami sangat bertanggung jawab atas pilihannya.

Setiap hari sebelum tidur kami akan menanyakan satu sama lain “apakah kamu msh sayang aku?” Suami mengaku selalu cium dahi & ke dua belah pipi saya setelah tahajud. Karena dia sangat soleh rajin dhuha, tahajud, puasa dan shalat di masjid. Kalau suami sudah terlelap “ngorok” saya akan belai-belai dan cium pipinya. Hubungan kami memang tidak banyak mengumbar kata-kata cinta alias tidak selau romantic. Tapi cinta kami sudah teruji & terbukti dibangun dengan dasar yang kokoh.

Saya bersyukur berjodoh dengan seorang pria #pilihanhati yang saling cinta. Kami berjanji untuk bertemu di akhirat kelak. Kami membangun rumah tangga atas dasar cinta dan mencari ridho NYA. Itu yang paling penting…

Bahagia adalah sebuah pilihan. Kita boleh memilih untuk terus melihat kekurang pasangan kita dan merasa tidak bahagia selamanya. Tapi kita juga bisa memilih melihat hal-hal kecil yang mbuat kita bahagia dari pasangan kita kan? Pasti ada deh,misalnya kekonyolannya. Manusia kan tidak sempurna. Kadang ketika kita disakiti pasangan kita, kita juga ingin membalasnya. Padahal saling menyakiti bukan solusi.

Dulu suamiku agak acuh sama anak-anak. Ketika hampir bercerai dia malahan belajar jadi bapak yang baik. Anak-anak pun makin sayang padanya. Saya yakin memiliki suami yang paling mengerti diri saya. Saya sangat bersyukur… Belum tentu loh ada pria lain yang mau mengerti spt dia.

Yang luar biasa adalah suami masih sangat sayang sama saya walaupun saya berkali-kali telah mengecewakan dirinya. Cinta atau pengertian ya? Alhamdulillah.

Carilah jodoh yang seiman supaya aman, jangan kalap pedekate calon karena tajir semata. Kalau gaya hidup & pandangn hidup beda ya jangan dipaksakan.

Untuk bisa bahagia dalam pernikahan kita maka kita harus berjuang & bersedia berubah untuk kenyamanan bersama. Jangan egois,  nanti rugi sendiri.

Sekian dulu sharing saya yaa… semoga bisa dipetik manfaat dari sekelumit perjalanan kehidupan saya yang belum seberapa ini.

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @noveldy

 
 

Pernikahan Impian, Nikmati Prosesnya

13 Sep

Semua yang menikah pasti senang sekali jika bisa mencapai dan menikmati pernikahan impian mereka. Namun apakah mereka mau nikmati prosesnya?

Kisah dibawah ini adalah kisah nyata, tentang bagaimana perjuangan untuk mencapai kualitas kehidupan pernikahan seperti yang diimpikan. Semoga bisa memberikan inspirasi dan manfaat. Selamat menikmati :)

You are going to be tested.. in the beginning, in the middle or at the end of your life. But you are going to be tested..

Kami bersyukur sering dengar kalimat bijak ini, sehingga kami bisa melewati turbulance yang cukup dahsyat dalamPernikahan Impian - www.IndraNoveldy.comkehidupan pernikahan kami. Tahun-tahun awal pernikahan kami laksana roller coaster yang lebih sering terjun bebas menuju jurang perpisahan. Kami berdua adalah dua orang yang saling mencintai & saling membutuhkan. Tapi cinta kami diuji begitu dahsyat…

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, kami diijinkanNya untuk melalui test dengan baik . Di saat genting, di saat kami belum melihat ada harapan.. kami punya impian. Pada saatnya nanti kami berhasil melalui ini semua… kami akan berbagi pengalaman

Rasa sakit bahwa dua orang saling mencintai tidak bisa saling memiliki, begitu dalam tertanam… Membuat kami tidak ingin hal ini dialami oleh siapapun juga.  Seorang sahabat yang mensupport kami pun pernah bilang, kalau dia yang mengalami seperti itu, dia tidak akan tahan..

Alhamdulillah kami diberi kekuatan untuk melalui ujian kami dengan baik. Entah berapa kali pernikahan kami diujung tanduk… Entah berapa kali lututku seperti tidak dapat menyangga badan karena begitu takutnya akan perpisahan diantara kami. Beberapa kali aku  dapat merasakan.. oooh, begini rasanya orang yang sudah putus harapan dan ingin menjadi tanah saja. Aku bersyukur, aku masih dekat dengan Sang Pencipta. Itu yang membuatku masih berpikir jernih.

Aku memiliki seorang suami yang “too good to be true”… Impiannya adalah aku. Ya, aku adalah impiannya. Impiannya memiliki istri yang mendampingi dan bahu membahu berjuang menuju sebuah keluarga yang utuh, penuh kehangatan dan kasih sayang.  Impiannya ingin pacaran terus dengan sang istri.

Impiannya adalah siapapun yang menjadi istrinya akan menjadi wanita yang sangat beruntung. His song for mePernikahan Impian has always been : “A Whole New World”. Ya, aku punya suami yang begitu ingin membawa aku menuju dunia yang begitu indah bersamanya. Very beatiful dream…

Tapi perbedaan diantara kami yang begitu besar dan begitu beragam membuat tanpa sadar, aku membunuh impiannya. Pola pikir, karakter, latar belakang keluarga, kebutuhan emosi & yang paling penting, tingkat kedewasaan kami yang begitu berbeda. Tanpa kami inginkan, tanpa kami sadari kami saling menyakiti.

Sampai hari ini, mata ini selalu basah dengan air mata, mengingat betapa aku bersyukur punya suami yang punya impian yang begitu kuat.  If the dream is big enough, the facts don’t count.

Perbedaan yang begitu besar diantara kami tidak membuat suamiku mundur setapakpun untuk membuat impiannya menjadi kenyataan. Selama 7 (tujuh) tahun dengan sabar dia memberi contoh, membimbing & memberi support yang luar biasa.

Tak terhitung berapa kali aku jatuh dan jatuh lagi. Mengulang kesalahan-kesalahan yang tidak perlu. Kesalahn yang membuat dia begitu sakit dan terpuruk. Saat itu, hanya doa yang membuat kami bertahan. Saat itu aku berpikir,akan sangat sulit untuk mendapatkan maafnya kembali. Tidak ada alasan apapun untuk membuatnya mau menerima aku kembali.

Tapi selalu kukatakan kepada diriku sendiri, kalau Tuhan bersamaku, aku akan mendapatkan dia kembali. Kesalahan yang aku lakukan mungkin terlihat remeh. Tapi aku lakukan itu di saat kritis dan aku lakukan untuk yang kesekian puluh kalinya.

Itulah aku yang dulu, yang tidak terlatih untuk peka, tidak terbiasa untuk “membaca’ situasi dan tidak memaksa diri untuk selalu stop & think. Kalau anda menebang pohon saat  mengayunkan kapak yg ke 100. apakah ayunan yg ke 100 yang membuat pohon tersebut tumbang? Ayunan yang ke 100 mungkin tidak sekuat yang pertama, tapi ayunan kapak anda dari 1-99 yang membuat ayunan ke 100 menumbangkan pohon tersebut.

That’s what I did. Entah berapa kali kali aku membuat ayunan yang ke 100… Di saat itulah suamiku yang sudah tumbang kesekian kali, kehilangan harapan. Di saat itu, aku hanya bisa curhat di tengah tahajjud malam… Aku yakin, DIA akan menunjukkan jalan untukku bisa merebut hatinya kembali. Alhamdulillah Tuhan masih begitu sayang kepada kami

“Ingatlah.. hanya dengan mengingatKu maka jiwamu akan tenang”. FirmanNya ini sangat menguatkanku saat itu. Itulah masa aku merasa tidak berdaya apapun tanpa kekuatanNya..itulah saat-saat aku betul-betul merasakan pertolonganNya..

Allah memang Maha Penyayang.. Dia akan berikan ujian agar kita dapat merasakan pertolonganNya dan merasakan kasih sayangNya. Suami yang begitu sabar membimbing, begitu kokoh melindungi, begitu tegar  menjadi contoh, membuatku punya kekuatan ekstra untuk membuatnya kembali punya impian.

Apakah ini mudah? Tidak sama sekali!!! Hampir putus asa rasanya menghangatkan hatinya yang sudah hampir beku. Air mata sudah tidak bisa menetes walaupun kesedihan begitu mendalam karea sudah begitu sering kami mengalami masa-masa yang amat sulit. Dari mana aku mendapatkan bahan bakar untuk terus bergerak dan berjuang mendapatkan hatinya kembali?

Aku belajar bahwa sikap suami yang selalu sabar memberi contoh bagaimana menjadi suami, ayah, sahabat, partner dan juga sebagai kekasih yang luar biasa membuat aku punya stok bahan bakar pertamax plus untuk terus bergerak dan berjuang :D

A man with a dream will not be denied. Tidak ada seorangpun yang dapat menghadang seseorang yang punya impian. Itulah gambaran yang tepat untuk suami. Impiannya begitu besar. Memiliki keluarga yang penuh kasih sayang, kehangatan. Saling menjadi soul mate sepanjang hayat.

Disaat banyak orang meragukan dan mencoba meyakinkannya bahwa itu impian yang too good to be true ..dia maju terus dengan impiannya. Disaat jurang perbedaan kami begitu lebar, dimana tanpa aku sadari, aku sering membuatnya kecewa dan terpuruk.. dia maju terus dengan impiannya.

Aku adalah impiannya.  Punya pasangan yang menjadi soul mate-nya adalah impian terbesarnya. If the dream is big enough, The facts don’t count… Aku tahu bahwa impiannya harus menjadi kenyataan. Aku harus terus berjuang untuk menjadi soul mate yang diimpikannya.

Mudah???  Tentu tidak sama sekali!!. Apakah berharga? Amat sangat!!! Sebuah proses yang panjang dan sangat menguras energi bagiku untuk bisa memahami suami, dengan besarnya perbedaan diantara kami. Tapi aku sadar, ini adalah cara Tuhan membuat aku menjadi orang yang lebih baik.

Aku dianugerahi seorang suami dengan impian yang begitu mulia. Sejak lama sebelum menikah aku punya impian menjadi wanita ahli surga. Yaitu wanita yang suaminya ridho kepadanya. Dan Tuhan menjawab impianku dengan menganugerahi seorang suami,  yang impiannya sering dikecam karena… “tidak mungkin.. too good to be true”.

Kami belajar bahwa Tuhan menjawab impian kita dengan caraNya yang kadang tidak kita pahami. Tapi yakinlah Tuhan tidak pernah salah. Rasa syukur yang tidak pernah henti-hentinya aku panjatkan karena aku dianugerahi seorang suami yang “tidak memanjakan” aku. Yang sabar membimbing dan kokoh memacu aku untuk tumbuh lebih baik lagi.

Aku sangat bersyukur, suami adalah seorang yang luar biasa penyayang. Dia sangat ‘memanjakan’ aku dengan passionnya yang begitu besar untuk membuat aku tumbuh. Aku bersyukur dia tidak memanjakanku dengan melindungi saya dari “growing pain”.

Perjalanan kehidupan pernikahan kami penuh dengan “growing pain”. Rasa tidak nyaman dari perjuangan untuk menjadi orang yang lebih baik. Berubah itu hanya “enak” terdengar. Prakteknya… rruarr biasa.. :) . Persis seperti sebongkah karbon yang diproses alam dengan temperatur yang sangat tinggi, di bawah tekanan dalam jangka waktu yang lama untuk berubah menjadi sebutir berlian.

Tidak ada yang enak dan nyaman dalam proses untuk berubah…tapi sangat berharga untuk dinikmati prosesnya. Mindset yang benar  adalah aset yang sangat berharga untuk sebuah kebahagiaan pernikahan.

Aku amat sangat bersyukur memiiki suami yang sekaligus my life coach… yang memberi banyak pelajaran berharga dan membuatku bisa berpikir benar.

Pelajaran #1 : menjadi  momentum builder..  tahu kapan aku harus memanfaatkan momentum untuk meningkatkan kualitas hubungan kami. Padahal dulu aku terkenal master dalam momentum killer L

Pelajaran #2 :  membaca situasi dan tanggap. .. Dulu aku terkenal sibuk dengan pikiran sendiri.  Ini membuat hubungan sering tambah runyam.

Pelajaran #3 : menempatkan diri di pikiran dan perasaan pasangan. Jadi tahu what to do & what to say dengan tepat. Dulu hobi aku berpikir asumsi.. berpikir & bertindak seperti yang aku pikirkan sendiri.

Pelajaran #4 : menghidupkan suasana… be creative . Yang ini aku masih belajar terus.. karena pada dasarnya aku orang yang monoton..

Pelajaran #5 : smiling heart…akan tercermin otomatis di wajah yang smiling face. Dulu aku penganut aliran  JUTEK IS THE BEST. Ada ganjelan sedikit, muka langsung suram

Pelajaran#6 : kalau senang tunjukkan..kalau lagi semangat, tularkan. Dulu aku termasuk kategori zombie.. hiii.. gak ada ekspresi.. seringnya, seneng & semangat buat diri sendiri aja.

Pelajaran #7 : tunjukkan apresiasi..  Padahal dulu setia dengan ‘aliran kebatinan’…ngebatin doang kalau pasangan melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Pelajaran #8 : mensyukuri hal sekecil apapun yang dilakukan pasangan. Dulu tanpa sadar aku sering TAKE IT FOR GRANTED atas hal-hal baik yang dilakukan pasangan.  Pola pikir… “khan sudah seharusnya dia melakukan itu”. à pemadam nomer wahid untuk api asmara..

Pelajaran #9 : timing yang tepat untuk mengatakan dan melakukan apapun. Impulsive adalah hobi aku dulu.. Bicara & bertindak tanpa berpikir apa yang akan dirasakan pasangan.

Pelajaran #10 : stop and think. Dulu aku jarang berpikir: kalau aku bersikap ini..ujungnya apa ya?

Aku bersyukur diberi ijin untuk mengalami turbulance dan angin topan di awal-awal pernikahan kami sehingga aku dapat banyak pelajaran berharga. Karena dari pengalaman itu membuat aku belajar kenal diri sendiri. Dengan kenal diri sendiri, aku jadi tahu apa kelemahan yang harus diperbaiki dan apa saja kelebihan untuk dioptimalkan.

Dengan mengenali diri, aku bisa dengan lebih baik mengenal orang-orang terdekat yang berarti dalam kehidupanku. Proses ‘growing pain’ ini membuatku belajar bagaimana lebih baik mendampingi suami… Lebih sabar membimbing anak. Puji syukur atas gemblengan hidup yang kami terima. Karena ternyata membimbing anak adalah ‘learning process’ tersendiri..!

Mengenal diri sendiri sungguh membantu lebih baik menjembatani  komunikasi dengan orang tua & adik-adik dengan segala perbedaan karakter kami.  Proses ini membuatku ‘’ngeri’ bila menengok ke belakang.. Ngeri membayangkan aku dulu yang amburadul. Ini semua yang membuat aku bersyukur  dengan anugerah Tuhan yang memberi kami proses “pencucian” ini… Pencucian diri dari segala sikap buruk yang dulu jadi ‘atribut kesayangan’ yang melekat sampai berkarat.

Dalam kehidupan anda akan mengalami ujian. Entah di awal, di tengah atau di akhir kehidupan anda. Siapkan diri anda sebaik mungkin agar pada saat ujian itu datang, anda bisa melaluinya. Untungnya kami berdua senang belajar. Sejak kuliah kami memang rajin menimba ilmu dari buku-buku & dari seminar tentang pengembangan diri.

Knowledge & skill yang kami dapatkan ini menjadi modal mental toughness untuk selamat melalui jalan yang sangat berliku & terjal mendaki menuju impian. Ya, ketangguhan mental sangat dibutuhkan dalam mengarungi bahtera pernikahan. Apakah anda sudah memilikinya? Pernikahan adalah sebuah ujian. Kalau mau lulus tentu perlu skill, knowledge & yg penting juga perlu ketangguhan mental.

Kalau Aku tidak pernah memberi kepahitan hidup, bagaimana kamu akan mengagungkan namaKu? Kalau Aku tidak memberimu ujian bagaimana Aku akan menaikkan derajatmu ? Kami yakin rencana Tuhan tidak pernah salah. Ini membuat kami terus menempa diri untuk lulus terus dalam ujianNya. Satu lagi fimanNya yang menguatkan kami: “Tidak ada satupun yg Allah ciptakan di dunia ini sia-sia”. Dan itu membuat kami bertambah yakin,  seluruh proses ‘pencucian’ ini ada tujuannya.. Berserah kepada rencana Tuhan untuk kami.  Percaya bahwa Dia sedang mempersiapkan sesuatu yang luar biasa untuk kami.

Pada saat-saat dimana aku tidak bisa menyentuhnya… saat suami begitu menjauh karena kekecewaan yang sangat dalam …Ribuan sms aku kirim untuk  mengingatkan dia betapa Allah sangat menyayanginya.. bahwa Dia akan selalu melindunginya. Saya yakinkan bahwa dia adalah orang baik. Yang betul-betul sangat baik & bahwa Allah mengirimnya ke dunia untuk sebuah misi.

Ayah, you are a very sincere person. Your kind & warm heart will touch many people’s live & make the world a better place

Sms ini aku kirim puluhan kali untuk mengingatkannya bahwa Allah menciptakannya dengan sebuah misi ..karena itu kami harus bertahan… Aku mengingatkan impian terbesarnya untuk selalu berbagi & menjadi orang yang sebaik-baiknya bermanfaat untuk orang lain.

Impian ini yang betul-betul menjadi‘pain-killer’ bagi kami dalam melalui masa sulit. Impian memang betul-betul dibutuhkan untuk terus bertahan. Apakah anda sudah memiliki impian yang kalau dengan mengingatnya saja bisa membuat anda menangis?

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Ilahi.. yang sudah  mengijinkan kami hidup dalam impian kami.. Ya. Sekarang kami sungguh menikmati hasil perjuangan kami..  Kami saling menjadi sahabat terbaik. We share our dreams and visions together… Kami bahu membahu menjadi orang tua terbaik untuk anak kami. Kami berjuang bersama untuk membahagiakan orang tua kami. Dan kami saling menguatkan untuk mengemban amanahNya.

Proses yang kami jalani tidak mudah tapi sungguh berharga… Pengalaman ini mengajarkanku untuk siap menjadi seorang istri yang dapat mendampingi suami dalam keteduhan. Mengajarkanku untuk menjadi ibu yang lebih bijak menghadapi karakter anak yang “tidak mudah”. Proses pembelajaran yang luar biasa yang mengajarkanku untuk dapat berperan sebagai istri, ibu, sahabat, partner sekaligus kekasih .. :)

Air mata selalu menetes saat membaca email suami bahwa dia sekarang merasa “at home”… Ungkapan yang begitu sederhana, tapi begitu berarti… Karena “at home” baginya berarti dia sudah mendapatkan pelabuhan yang nyaman di rumah… And that’s  my dream..!! Rasa haru layaknya ibu yang melihat bayinya baru lahir… hilang sudah segala kepayahan selama kehamilan dan persalinan. Itu juga sering aku rasakan melihat tatapan matanya yang begitu damai. Kami sering kirim-kiriman email… lucu ya.. serumah kok email-emailan…Tapi itu salah satu cara kami mengungkapkan perasaan kami yang terdalam.

A dream makes people alive. Orang yang tanpa impian hidup seperti zombie. Aku pernah membuat suamiku menjalani hidup layaknya zombie.. :( .  Karena aku membunuh impiannya. Impiannya memiliki seorang soulmate seperti kandas di tengh jalan.

Puji syukur tidak henti-hentinya aku panjatkan karena aku diberi kekuatan untuk menjadi impiannya. Dan puji syukur yang tak terhingga Dia memberi kekuatan kepada suami untuk terus membimbing aku yang menjadi impiannya.

Yes… we are living our dream.. because we are willing to pay the price…Are you?

Impian kami berdua untuk selalu jadi saluran berkat. Kami ingin kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh pasangan lainnya. Impian kami ingin melihat anak-anak hidup di tengah-tengah kehangatan keluarga. Impian kami melihat  Indonesia bangkit kembali. “Indonesia Strong From Home”… kami mendukung misi ini

Kebahagiaan pernikahan tidak diantar malaikat di atas nampan emas ke hadapan anda. You have to fight for it..!

From the bottom of my heart I would like to say thank you for my life coach.. my best friend… my dear husband.

Semoga sedikit sharing ini bisa meberi manfaat buat teman-teman semua. Salam hangat, @NunikNoveldy :)

Ingin ngobrol dengan saya?  Follow saya di twitter: @noveldy

 
 
 
Sharing Buttons by Linksku